SELAMAT DATANG DI BLOG KHASANIYAH SOFTWARE TEMPAT DOWNLOA SOFTWARE GRATIS, HABIS DOWNLOAD JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR DAN JIKA BERKENAN SILAHKAN KLIK IKLANNYA

Friday, November 18, 2011

Amm

بسم الله الرحمن الرحيم
A.    Pengertian ‘Amm dan Sigat Umum
Dalam pengertian dan pemaknaan ‘amm dan sigat umum ini sebernanya mengalami perbedaan di dalam ahli bahasa arab, tapi disini kami menampilkan pengertian dari jumhur ulama’.
a. Menurut Bahasa (Etimologi)
‘Amm menurut bahasa bahasa adalah : شُمُوْلُ أَمْرٍ لِمُتَعَدِّدٍ artinya : Mencakup sesuatu yang berbilang-bilang (tidak terbatas).
b. Menurut Istilah (Terminologi)
Sedangkan ‘Amm menurut istilah adalah :
اللَّفْظُ الْمُسْتَغْرِقُ لِجَمِيْعِ مَا يَصْلُحُ لَهُ بِحَسَبِ وَضْعٍ وَاحِدٍ دَفْعَةً.
Artinya : Lafazh yang mencakup semua yang cocok untuk lafazh tersebut dengan satu kata sekaligus. Contohnya kata الرِّجَالُ yang berarti kaum laki-laki. Maka semua laki-laki di dunia ini masuk dalam kata الرِّجَالُ .
Sebagai contoh firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat: 34 yang menerangkan tentang kedudukan kaum laki-laki atas kaum perempuan:
ãA%y`Ìh9$# šcqãBº§qs% n?tã Ïä!$|¡ÏiY9$# $yJÎ/ Ÿ@žÒsù ª!$# óOßgŸÒ÷èt/ 4n?tã <Ù÷èt/ !$yJÎ/ur (#qà)xÿRr& ô`ÏB öNÎgÏ9ºuqøBr& 4
Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita). (Q.S.An-nisa’: 34)
Yang dimaksud laki-laki di sini bukan hanya laki-laki Arab atau laki-laki yang beragama islam saja, tapi semua laki-laki yang ada di muka bumi ini.
c. Menurut para ulama
Para ulama Ushul Fiqh memberikan definisi/pengertian ‘Amm yang berbeda-beda, akan tetapi pada hakekatnya definisi tersebut mempunya pengertian yang sama. Para ulama itu antara lain sebagai berikut:
1) Menurut Ulama Hanafiyah:
كُلُّ لَفْظٍ يَنْتَظِمُ جَمْعًا سَوَاءٌ أَكَانَ بِاللَّفْظِ أَوْ بِالْمَعْنَى.
“Setiap lafazh yang mencakup banyak, baik secara lafazh maupun makna.”
2) Menurut ulama Syafi’iyah, diantaranya Al-Ghazali:
اللَّفْظُ الْوَاحِدُ الدَّالُ مِنْ جِهَةٍ وَاحِدَةٍ عَلَى شَيْئَيْنِ فَصَاعِدًا.
“Satu lafazh yang dari satu segi menunjukan dua makna atau lebih.”
3) Menurut Al-Bazdawi:
اللَّفْظُ الْمُسْتَغْرِقُ جَمِيْعَ مَا يَصْلُحُ لَهُ بِوَضْعٍ وَاحِدٍ.
Lafazh yang mencangkup semua yang cocok untuk lafazh tersebut dengan satu kata.”

4) Sedangkan menurut Manna’ Khalil al-Qattan dalam bukunya  yang telah diterjemahkan ‘Amm adalah lafadz yang menghabiskan atau mencakup segala apa yang pantas baginya tanpa ada pembatasan.[1]
Para ulama berbeda pendapat tentang ”makna umum” apakah di dalam ia mempunyai sigat (bentuk lafaz) khusus untuk menunjukkanya atau tidak ?. Sebagian besar ulama berpendapat, di dalam bahasa terdapat sigat-sigat tertentu yang secara hakiki dibuat umtuk menunjukkan makna umum dan dipergunakan  majas pada selainya. Untuk mendukung pendapatnya ini mereka mengajukan sejumlah argument dari dalil-dalil nassiyah, ijma’iyah dan ma’nawiyah.
1.      Di antara dalil-dalil nassiyah ialah firman Allah :
3yŠ$tRur ÓyqçR ¼çm­/§ tA$s)sù Å_Uu ¨bÎ) ÓÍ_ö/$# ô`ÏB Í?÷dr& ¨bÎ)ur x8yôãur ,ysø9$# |MRr&ur ãNs3ômr& tûüÏJÅ3»ptø:$# ÇÍÎÈ   tA$s% ßyqãZ»tƒ ¼çm¯RÎ) }§øŠs9 ô`ÏB šÎ=÷dr& ( 
“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku Termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya. "Allah berfirman: "Hai Nuh, Sesungguhnya Dia bukanlah Termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). “” (Hud [11] : 45-46).
Aspek yang dijanjikan dalil dari ayat ini ialah bahwa Nuh menghadap kepada Allah dengan permohonan tersebut karena ia berpegang pada firman-Nya :
 $¯RÎ) x8qfuZãB y7n=÷dr&ur ž.
“Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan keluargamu.” (Ankabut [29] : 33).
Allah membenarkan apa yang dikatakan Nuh. Karena itu Ia menjawab dengan pernyataan yang menunjukkan bahwa anaknya itu tidak termasuk keluarga. Seandainya idhafah (penyandaran) kata “keluarga” kepada “Nuh” (keluargaku, keluarga Nuh) tidak menunjukkan makna umum, maka jawaban Allah Swt tersebut tidak benar.

            Juga firman-Nya :
$£Js9ur ôNuä!%y` !$uZè=ßâ zOŠÏdºtö/Î) 3tô±ç6ø9$$Î/ (#þqä9$s% $¯RÎ) (#þqä3Î=ôgãB È@÷dr& ÍnÉ»yd Ïptƒös)ø9$# ( ¨bÎ) $ygn=÷dr& (#qçR$Ÿ2 šúüÏJÎ=»sß ÇÌÊÈ   tA$s% žcÎ) $ygÏù $WÛqä9 4 (#qä9$s% ÚÆøtwU ÞOn=÷ær& `yJÎ/ $pkŽÏù ( ¼çm¨YuŠÉdfoYãYs9 ÿ¼ã&s#÷dr&ur žwÎ) ¼çms?r&tøB$# ôMtR$Ÿ2 z`ÏB šúïÎŽÉ9»tóø9$# ÇÌËÈ  
Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: "Sesungguhnya Kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; Sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim". Berkata Ibrahim: "Sesungguhnya di kota itu ada Luth". Para Malaikat berkata: "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan Dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya. Dia adalah Termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” (Ankabut [29]: 31-32).
            Segi yang dijadikan dalil ialah bahwa Ibrahim As memahami ucapan para malaikat, Ahlu hazihil- qaryah (penduduk negeri ini), adalah umum, di mana ia menyebutkan Lut. Para malaikat pun mengakui pemahaman demikian dan menjawab bahwa mereka akan memperlakukan secara khusus Lut dan keluarganya, dengan mengecualikan istri Lut dari orang-orang yang diselamatkan. Ini semua menunjukkan makna umum.

2.      Di antara dalil-dalil ijma’iyah  ialah ijma’ (konsensus) sahabat bahwa firman Allah :
èpuÏR#¨9$# ÎT#¨9$#ur (#rà$Î#ô_$$sù ¨@ä. 7Ïnºur $yJåk÷]ÏiB sps($ÏB ;ot$ù#y_ (   
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera. “ (an-Nur [24]: 2),1
Dan firman-Nya :
ä-Í$¡¡9$#ur èps%Í$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ÷ƒr& .  
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya”. (al-Maidah [5] : 38),dan lain sebagainya, adalah bermaknba umum, berlaku dan dapat diterapkan bagi setiap orang yang berzinah dan mencuri.
3.      Di antara dalil-dalil ma’nawiyah ialah bahwa makana umum itu dapat dipahami dari penggunaan lafadz-lafadz tertentu yang menunjukkan demikian. Andaikata lafadz-lafadz tersebut tidak dibuat untuk makna umum tentu akan sukar bagi akal untuk memahaminya. Misalnya lafaz-lafaz syarat, istifham (pertanyaan) dan mausul.

Kita dapat menangkap adanya perbedaan antara kata kull (seluruh) dengan ba’d (sebagian). Dan seandainya kull tidak menunjukkan arti umum, tentulah perbedaan itu tidak terwujud.
Andaikata seseorang berkata dengan pola kalimat nakiroh manfi. لارجل في الدار (tak ada seorang pun di dalam rumah), maka ia dipandang berdusta jika diperkirakan dia melihat seseorang. Hal ini sebagai mana tercermin pula dalam firman Allah:
ö@è% ô`tB tAtRr& |=»tGÅ3ø9$# Ï%©!$# uä!%y` ¾ÏmÎ/ 4ÓyqãB
Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa?” (al-An’am [6}:91) ayat ini untuk mendustakan mereka yang berkata:
!$tB tAtRr& ª!$# 4n?tã 9Ž|³o0 `ÏiB äóÓx«
"Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia” ini semua menunjukkan bahwa nakiroh setelah nafy adalah untuk makna umum. Kalaulah bukan untuk makna umum, maka ucapan kita, La ilaha illallah bukam sebagai kalimat tauhid, karena tidak menunjukkan peniadaan semua ilah selain Allah.4
Atas dasar itu maka umum itu mempunyai sigoat-sigat tertentu yang menunjukkannya. Di antaranya:
·         Kata kull (setiap/seluruh) dan jami’ (semua). Misalnya ayat 21 surat At-Tur                       
 @ä. ¤ÍöD$# $oÿÏ3 |=|¡x. ×ûüÏdu ÇËÊÈ  
tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
·         Kata jama’ yang disertai alif dan lam di awalnya, seperti kata al-walidat (para ibu) dalam ayat 233 surat Al-Baqorah:
* ßNºt$Î!ºuqø9$#ur z`÷èÅÊöãƒ £`èdy»s9÷rr& Èû÷,s!öqym Èû÷ün=ÏB%x.
233. Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.
  • Isim nakirah yang dinafikan (dicegah) atau yang disyaratkan, sperti contoh;
لاإكراه فى الدين
ولا تصلّ على أحد منهم مات أبدا
Isim nakirah yang mutsbat (ditetapkan), tidak mengandung pengertian umum seperti yang terdapat dalam ayat إنّ الله يأمركم أن تذبحوابقرة kecuali bila terdapat qorinah (tanda), contohnya لهم فيها فاكهة ولهم مايدّعون .
  • beberapa isim maushul, di antaranya;

ما : وما من دابّة فى الأرض إلا على الله رزقها
من : فمن كان منكم مريضا
الذين : إنّ الذ ين يأكلون أموال اليتامى ظلما
الللائى : واللائى يئسن من المحيض من نسائكم
اللاتى : واللاتى يأتين الفاخشة من نسائكم
أولات : وأولات الأحمال لأجلهنّ أن يضعن حملهن
  • Isim-isim syarat, beberapa di antaranya;
من : من شهد منكم الشهر فليصمه
ما : وما تنفقوا من خير يوفّ اليكم
أي : أيّما تدعو فله الأسماء الحسنى
أينما : أينما تكونوا يدرككم الموت

إن : إن كنتم فى ريب مما نزّلناعلى عبد نا فأتوابسورة من مثله
  • Isim isim istifham, sebagaimana dalam contoh-contoh berikut:
من : من فعل هذا بألهتنا يا إبراهيم
ماذ : ماذا أراد الله بهذا مثلا
متى : متى نصر الله
أين : أين ما كنتم تدعون من دون الله
B.     PEMBAGIAB ‘AMM DA KHASH
C.     Melalui pengkajian terhadap nash-nash, al-‘am dibagi menjadi tiga macam;
D.    1)      ‘Am yang secara pasti bermaksud keumuman, sebagaimana firman Allah:
E.     وََمَا مِن دَابَّةٍ فِى الأرضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزقُهَا. (هود :٦ )
F.      Artinya: “Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah pasti memberi rizkinya”.
G.    2)      ‘Am yang secara pasti dimaksudkan sebagai kekhususan. Seperti Firman Allah SWT:
H.    وَلله على الناس حِجُّ البَيتِ. ( ال عمران : ۹۸)
I.       Artinya: “Menunaikan haji ke Baitullah adalah kewajiban manusia terhadap Allah”.
J.       3)      ‘Am yang dikhususkan, yaitu al-‘am al-muthlaq yang tidak disertai qorinah yang meniadakan kemungkinan pengkhususannya atau ditiadakan dalalahnya, seperti nash yang di dalamnya terdapat lafadz-lafadz ‘am dan tidak ada qorinah lafadz, akal atau kebiasaan yang bias menentukan kekhususan ataupun keumumannya sehingga keumumannya menjadi khusus sampai ada dalil yang mengkhususkannya, contoh;    والمطلقات يتربّصن بأتفسهنّ ثلا ثة قروء[5]perempuan-perempuan yang dithalaq itu menunggu”. Menurut imam al-Syaukani, al-‘am yang dimaksudkan sebagai kekhususan adalah al-‘am yang ketika diucapkan disertai qorinah yang dapat menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan al-‘am itu ialah khusus bukan umum.5


[1] Mudzakir, studi ilmu-ilmu Qur’an, 2009, Bogor: Pustaka Litera AntarNusa Cet 12
Anda sedang membaca artikel tentang Amm dan anda bisa menemukan artikel Amm ini dengan url http://khasaniyah.blogspot.com/2011/11/amm.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Amm ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Amm sumbernya.

No comments:

Post a Comment